Investasi Asing Kembangkan Garam di Desa Jumpai

  • 17 Maret 2015
  • Dibaca: 541 Pengunjung
Investasi Asing Kembangkan Garam di Desa Jumpai

Ketidakmampuan pemerintah daerah membantu petani garam berkembang, dimanfaatkan pihak asing. Seperti di Desa Jumpai, Kecamatan Klungkung. Investasi asing langsung, mengembangkan produksi garam lokal hingga mencari bahan baku keluar daerah. Hasilnya, kemudian dijual ke provinsi lain hingga ekspor ke luar negeri.

Investasi asing langsung di Desa Jumpai, dilakukan oleh PT Bening Big Tree Farms, perusahaan asing di bidang organik dan biji-bijian yang sedang berkembang di Indonesia. Sentra produksinya di Desa Jumpai persis di pinggir jalan akses masuk pantai, dengan menggunakan proses penjemuran rumah kaca dan proses sortasi (pemilahan) secara manual.

Penanggung jawab usaha, Wayan Suardana ditemui dilokasi produksi, Selasa (17/3/2015), mengatakan Desa Jumpai selama ini nyaris tidak ada yang bisa diandalkan pascaaktivitas galian C ditutup pemerintah daerah. Adapun yang berprofesi sebagai nelayan, juga ditinggalkan karena mereka tak mampu berkembang lagi.

Namun, keberadaan sentra produksi garam masih bisa diselamatkan. Investasi asing langsung, membangun dua rumah kaca dan merekrut belasan karyawan dari warga setempat. Karena terbatasnya bahan baku, Suardana mengatakan pihak perusahaan pun akhirnya mendatangkan bahan baku dari luar Klungkung, seperti dari beberapa kecamatan di Kabupaten Buleleng.

“Di Klungkung ada bahan baku dari Desa Kusamba, tapi tidak cukup,” kata Suardana. Proses yang dilakukan di Desa Jumpai saat ini hanya pemilahan. Dalam dua minggu, belasan karyawan setempat bisa menghasilkan garam siap kemas seberat 250 kilogram. Proses sortasi di Desa Jumpai tergolong rumit. Garam biasa sebagai bahan baku, dicairkan kembali dan dijemur di dalam rumah kaca, di mana suhunya jauh lebih panas dan tahan lama, ketimbang dijemur langsung dibawah sinar matahari.

Salah satu karyawan, Ni Ketut Landri mengaku merasa terbantu dengan bertahannya produksi garam di Desa Jumpai. Demikian juga diungkapkan karyawan lainnya, Ni Kadek Arini dan Nengah Juita. Sebab, dengan ditutupnya galian C dan punahnya nelayan dari Desa Jumpai, praktis warga lokal sulit mencari penghidupan. Seluruh karyawan mengaku mendapatkan upah sesuai UMK di Klungkung.

Untuk diketahui, sebagaimana penelitian yang dilakukan I Dewa Nyoman Ngurah Ari Cahyadi dkk., dari Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana, investasi asing langsung oleh PT Bening Big Tree Farms dalam hal pengolahan garam tahun 2013, menanamkan modal sebesar Rp. 1.014.000.000.

  • 17 Maret 2015
  • Dibaca: 541 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita